JAKARTA – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) I Gusti Ayu Bintang mengucapkan proses belajar mengajar dari panti yang kini mulai diterapkan kausa pandemi virus corona (Covid-19 menyulitkan kaum ibu di rumah.

Hal tersebut menjadi bahara bagi seorang ibu ditambah tak adanya panduan dari sekolah untuk melakukan pembelajaran yang baik dan benar.

“Kebijakan dari rumah itu dapat menjelma beban tersendiri bagi terutama ketika sekolah tidak menyediakan panduan dengan cukup, ” kata Menteri PPPA I Gusti Bintang saat kerap virtual dengan Komisi VIII DPR, Kamis (9/4/2020).

Patuh Ayu, hal yang menghambat yang lain adalah sarana dan prasarana yang minim untuk mengajarkan anak menjadi beban tersendiri. Ditambah budaya patriarki di Indonesia menyebabkan ibu tak mendapat bantuan dari sang suami.

“Dari sisi anak, kurang memadainya sarana dan prasarana yang dimiliki serta kemampuan orang tua yang kurang mumpuni membuat mereka terancam tidak mendapat pendidikan yang optimal, ” tuturnya.

Lebih jauh Ayu menyebut, kendala tersebut pula dihadapi anak-anak berkebutuhan khusus ataupun disabilitas. Tanpa panduan, kebijakan bersekolah di rumah tidak bisa optimal dilakukan.

Berdasarkan inspeksi online, kata Ayu, dengan target anak pada 26 sampai 29 Maret 2020 ditemukan 99 tip anak menyatakan belajar di vila merupakan program yang sangat istimewa. 91 persen anak mendapatkan pertolongan dari pengampu selama belajar sejak rumah.

Baca Juga: Arti Belajar di Panti di Tengah Wabah Virus Corona

“Walaupun demikian, 49 persen anak menyatakan bahwa belajar dari rumah membebani bujang dengan tugas yang banyak & 58 persen anak menyatakan perasaan yang tidak menyenangkan selama melakukan program belajar dari rumah, ” tuturnya.

(erh)