Kasus kanker di Nusantara cukup tinggi. Menurut data Globocan (2020), kasus baru kanker menyentuh angka 396. 914, dengan total kematian lebih dari setengahnya yakni 234. 511 kasus.

Dari data tersebut, diketahui bahwa kanker payudara menjadi kelompok kanker terbanyak dengan jumlah kasus 65. 858 (16, 6%). Di era pandemi dengan adanya aturan pemisahan mobilisasi, upaya skrining menjadi hal yang sulit dilakukan bagi penuh masyarakat.

penderita kanker

Meski, alasan tertinggi perempuan enggan melakukan skrining ialah rasa tidak nyaman ketika kemaluannya diperiksa dokter.

Padahal, skrining secara rutin itu perlu dilakukan untuk membenarkan tubuh Anda tidak memiliki kanker ataupun penyakit lainnya. Skrining serupa sangat diperlukan bagi mereka dengan sudah memiliki penyakit serius buat memantau kestabilan kondisi kesehatan.

Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan melalui Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) mengimbau agar masyarakat tetap melakukan skrining dengan mematuhi protokol kesehatan tentunya di masa pandemi ini.

“Kami mengimbau kepada klub agar tetap melakukan skrining elok itu di puskesmas, klinik, atau di rumah sakit meski situasinya sedang pandemi, ” kata Penasihat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Cut Putri Arianie, di Webinar, Kamis (4/2/2021).

Ketika masyarakat tak sedia skrining, Cut Putri khawatir usai pandemi ini berakhir, terjadi lonjakan kasus kanker di masyarakat. Hal itu terjadi karena tidak dilakukannya skrining secara rutin oleh kelompok.

“Upaya mengidentifikasi secara dini penyakit dengan skrining pasti penting dilakukan di masa pandemi, ini bukan hanya untuk skrining kanker sebenarnya. Skrining bisa dilakukan di fasilitas kesehatan tingkat prima (FKTP) yang dekat dengan masyarakat padahal, ” ujarnya.