Menurut Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kementerian PPPA), anak adalah seseorang dengan belum berusia 18 tahun, tercatat anak yang masih berada dalam kandungan.

Jumlah anak di Indonesia sebesar 80 juta orang. Artinya 30 persen penduduk Indonesia adalah anak. Dengan total populasi yang cukup besar, bani merupakan investasi bangsa yang bisa dibentuk menjadi manusia yang bisa berdaya saing.

perkawinan anak

Sayangnya, pada Indonesia masih terdapat banyaknya perkawinan anak. Indonesia menetapkan batas leler menikah adalah 19 tahun ataupun lebih. Tetapi pada kenyataanya, penuh anak yang menikah di lembah umur, bahkan saat masih berusia 12 tahun.

Karena banyaknya risiko yang bisa terjadi dari perkawinan pra, Kementerian PPPA sedang mengupayakan agar perkawinan anak dapat dicegah. Lengah satunya adalah melalui program Satuan Pendidikan Ramah Anak (SRA).

“SRA merupakan satuan pelajaran formal, non formal, dan rileks yang mampu memberikan pemenuhan hak dan perlindungan khusus bagi bani termasuk mekanisme pengaduan untuk penanganan kasus di satuan pendidikan, ” jelas Deputi Menteri PPPA Dunia Pemenuhan Hak Anak Kemen PPPA Lenny N. Rosalin dalam webinar Pencegahan Perkawinan Anak pada Jumat (19/2/2021).

Adapun kalender SRA untuk mencegah perkawinan bujang adalah karena ini merupakan pola satuan pendidikan yang memastikan di setiap anak secara inklusif berada dalam lingkungan yang aman, nyaman dengan fisik, sosial, psikis, dan sanggup hidup tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara wajar sesuai fase perkembangannya serta mendapatkan perlindungan dari kebengisan dan diskriminasi.

Selain itu SRA juga mengikutsertakan orangtua agar memiliki tanggung jawab bergabung dengan satuan pendidikan untuk menjaga anak berproses dalam dunia pendidikan.

SRA pun mempunyai prinsip tanpa kekerasan dan segregasi. Ini berarti mengedepankan kepentingan utama bagi anak, memperhatikan kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak, penghargaan terhadap pendapat dan partisipasi bujang.

(DRM)